Kurang dari sebulan lagi semua murid kelas 3 di seluruh Indonesia akan menjalankan UN. Kurang dari sebulan lagi. Waktunya singkat bukan? Aku salah satu dari ribuan siswa yang akan menjalankan UN tanggal 14 April nanti. Setelah itu hasilnya keluar-lulus-lanjut ke kuliah. Hidup rasanya bakal terus berubah dengan cepat. Padahal rasanya -kayak- baru masuk sma tahun kemaren, seperti semua yang udah berlalu 3 tahun terakhir ini selesai dalam sekejap mata. Dan kita semua pasti bakal merindukan masa-masa yang sudah pernah kita lalui tersebut. :) Selama hampir 3 tahun aku sekolah di Smansa, baru kali ini ikut liqo, kegiatan berbagi pengetahuan Islami dan juga pengetahuan umum, Alhamdulillah ngerasa kegiatan ini bermanfaat banget. Jadi, dalam setiap kegiatan liqo ada satu mentor (Murabbi) yang akan sharing tentang berbagai materi yang pastinya bermanfaat. Murobbi pertamaku namanya Mbak Jovan. Umurnya 23 tahun, masih muda, dokter, suaranya kalem dan kalau bagi aku yan...
Aku paling suka saat muridku patuh dan mengerjakan tugas dariku tanpa mengeluh. Namun aku paling bersedih saat mereka mengeluh dan menyerah pada palajaranku. Aku paling suka saat mereka bertanya dan antusias mendengar ceritaku tentang hal yang kuajarkan. Namun aku paling tidak suka saat mereka bertanya hal yang diluar konteks pembelajaran di saat yang tidak tepat. Aku paling bahagia saat mendengar mereka mengatakan “Aku ingin belajar sama Ustadzah!” “Ustadzah kapan kita bisa belajar lagi?”. Namun aku paling bersedih kalau mereka tidak antusias atau tertidur saat jam pelajaran ku. Namun, yang paling paliiing aku sukai dari muridku adalah… bukan nilai yang besar saat mereka ulangan, tapi momen-momen bahagia yang membuat ku tertawa karena tingkah polah mereka. Pernah suatu hari… aku sedang mengajar kelas 8 di gedung SMP lantai 2. Tiba-tiba, segerombol anak-anak didik ku berlarian dari kelasnya di lantai 3 kemudian mengetuk pintu kelas dan memanggilku dengan panik. “Ustadzah Ha...
Pagi itu kantor masih sepi. Ketika aku masuk hanya ada seorang santri disana, sedang berdiri di depan telpon sembari berulang-ulang memencet tombol di telpon kantor tersebut. Biasanya santri diperbolehkan memakai telpon kantor untuk menghubungi orang tua apabila ada kebutuhan mendesak, karena tidak diperkenankan membawa handphone sendiri. Atas izin dari guru pengawas tentunya. Tumben . Begitu pikirku. Tidak biasanya ada santri yang meminjam telpon kantor sepagi ini. Aku pun menghampiri dan menyapa nya, “Nelpon siapa, ji? Nelpon Umi ya?”. Aji, santri kami kelas 7, yang paling murah senyum, kala itu mukanya sedikit muram dan gelisah. “Iya, ustadzah” jawabnya singkat. “Ada apa, Aji sakit ya nak?” tanyaku memastikan. “Iya dzah, tolong wa Umi Aji dzah, Aji mau minta dijemput” katanya. “Ooh iya sebentar ya” balasku sambil mencari kontak wa Umi yang bersangkutan. Kemudian, karena belum memiliki nomor Umi Aji, aku meminta nomo...
Komentar
Posting Komentar